Senin, April 14

 450 Pesilat akan Berlaga di Kejurda Pagar Nusa Jateng


Sebanyak 450 pesilat akan mengikuti Kejuaraan Daerah (Kejurda) II yang diadakan Pengurus Wilayah Pencak Silat Pagar Nusa Jawa Tengah di Pesantren Az-Zuhri Semarang, 11-13 Januari. Mereka yang berasal dari berbagai daerah se-Jateng ini siap berlaga pada lomba kategori tanding dan seni Pencak Silat Pagar Nusa.

Salah seorang panitia Agus Pranoto mengatakan, kejurda bertujuan mengembangkan prestasi dan mempererat tali silaturahmi antar pesilat Pagar Nusa se Jateng dan DIY. Targetnya, menyiapkan atlet-atlet pencak silat untuk dikirimkan pada kejuaraan nasional yang diadakan PP Pagar Nusa.

“Kejurda ini dimaksudkan juga untuk menyamakan persepsi terkait jurus-jurus pencak silat Pagar Nusa. Sebab, jurus-jurus yang mengacu hasil Mukernas Pagar Nusa penyampaiannya kepada anggota di daerah-daerah banyak yang berbeda," ujarnya kepada NU Online di Kudus, Selasa (7/1).

Di samping program kerja Pimpinan Wilayah Jateng, jelas Agus, kejurda dimaksudkan juga untuk memperingati harlah ke-28 Pagar Nusa dan  memeriahkan peringatan Maulid Nabi.

“Kami menargetkan jumlah peserta 450 pesilat akan mengikuti perlombaan dengan kategori dewasa dan remaja,” terangnya.

Hingga Selasa (7/1) , jelas dia, peserta yang sudah mendaftar mencapai 250 pesilat. Mereka ini berasal dari  kontingen Kudus, Jepara, Pati, Blora, Grobogan,  Demak, Kendal, Batang, Kebumen, Banjarnegara,  Sragen, Purworejo, Temanggung, Kabupaten Tegal, dan Kota Tegal.

“Panitia masih menunggu dari daerah lain yang belum mendaftar jadi peserta,” imbuh Agus.

Sementara Pagar Nusa Kudus menyatakan kesiapannya mengikuti kejurda II ini. Bahkan dengan tegas, Kudus yang mengirim 25 pesilat menargetkan Juara Umum.

“Kita jaga tradisi di Jawa Tengah harus juara umum,” tandas koordinator pelatih Kudus Masrukin singkat. (Qomarul Adib/Abdullah Alawi/hendro widodo.S.Pd)

 Dipusatkan di halaman Ponpes Az-Zuhri Ketileng Semarang

Pagar Nusa Jawa Tengah gelar Kejurda

Minggu, 12 Januari 2014 13:16 WIB (3 months yang lalu)




 Pimpinan Wilayah Pencak Silat Nahdlatul Ulama (PW PS NU) Pagar Nusa Jawa Tengah menggelar Kejuaraan Daerah (Kejurda) ke-2 di kompleks Pondok Pesantren Az-Zuhri, Ketileng, Semarang.
Kerjuda II yang diadakan dari tanggal 11-13 Januari 2014 ini diikuti 236 atlet wiralaga dan 23 kontingen seni jurus, baik putri maupun putra. Para atlet ini berasal dari utusan 23 Pimpinan Cabang Pagar Nusa.
Ketua Umum Pimpinan Pusat Pagar Nusa, Gus Aizzuddin mengatakan, Kejurda diadakan untuk mencari pesilat-pesilat unggul agar bisa melatih di daerahnya. Juga melatih sportivitas atlet, media silaturahim, menjalin persatuan dan sekaligus syiar Islam.
Gus Aizzuddin menambahkan agar seni bela diri pencak silat diajarkan di seluruh sekolah di Indonesia. Karena olah raga bela diri ini adalah asli Indonesia dan harus dilestarikan oleh bangsa Indonesia sendiri.
Ia meneruskan, Jepang yang merupakan negara kecil, dulu pernah menjajah bangsa-bangsa lain dan sekarang menguasai teknologi di dunia itu karena sejak sekolah dasar sudah mewajibkan belajar bela diri.
“Pencak silat adalah warisan asli bangsa kita. Dulu dipakai para ulama dan para pahlawan untuk berjuang merebut kemerdekaan. Harus dilestarikan dan dijadikan pelajaran wajib di seluruh sekolah di Indonesia. Kita tiru Jepang dari sisi baiknya,” beber Gus Aizzuddin kepada LICOM, Minggu (12/01/2014).
Saat pembukaan Kejurda para atlit dan warga sekitar pesantren yang hadir dihibur penampilan atraksi jurus pencak silat, peragaan ilmu kebal, dan seni beregu dengan kostum tradisional.
Selain itu juga ditampilkan atraksi beladiri militer Yong Moo Do dari Batalyon 400/Raider TNI AD serta aksi Reog Baru Klinthing Krido Utomo.
Hadir dalam pembukaan, Ketua PW GP Ansor Jateng, pengurus KONI Jateng, Pejabat Pemprov Jateng, Kodam IV/Diponegoro, Polda Jateng, IPSI Jateng, sejumlah kyai dan tokoh masyarakat.@Yuwana irianto

Senin, Desember 24


 PERGURUAN  PENCAK SILAT  NAHDATUL ULAMA PAGAR NUSA

HISTORY

Nusa fence as an organ under the auspices of duty NU explore, develop, and preserve the legacy of martial arts and cultural guardians songo especially Indonesian martial arts in general.
      Formed and established by its founders in 1828 until August 27, 1915 NUSA LPSNU FENCE AND dated January 3, 1986 Form FENCE IPSNU NUSA as the Autonomous nahdiyin / NU And other Kediri Lirboyo boarding school in East Java. NU decree on the ratification of the establishment and management passed 9 Dhu al-Hijjah 1406/16 July 1986. Starting from a care and concern about the decline of the world as well as in the court martial boarding school. Though initially a source of pride martial arts that blends with boarding school life and activities.
Signs - a sign kesurutan include: Loss of role as a hermitage boarding school of martial arts. Originally a boarding school can be described as the central activities of martial arts. Kiai or Ulama 'boarding school caretakers always equip themselves with knowledge of martial arts in a particular aspect or karama power combined with martial arts. At that moment a Kiai simultaneously a martial arts warrior.
On the other hand growing proliferation of martial arts college that was born like mushrooms rainy season. With all the diversity both in terms of religion, aqidah or faith, another one is closed considers himself the best and most powerful. Most are local so that the mushrooming growth and falling thereafter. For that reason, when H. Suharbillah meet K.H. Mustofa Bisri from Rembang and splice about his martial NU specifically reconcile him with KH Agus Maksum Jauhari the already famous martial arts expert.
The situation is thus encouraging pesantren leadership scholars, warriors and martial arts figures for deliberation in particular find a way out, which is making a special container that manages martial arts NU. In the 12th Muharrom H 1406 27 September 1985 to coincide with the assembled scholars and warriors Tebuireng Jombang in boarding school in East Java for discussion and agreed to form a special container NU care of martial arts. Consultation was attended by leaders of the local martial arts Jombang, Ponorogo, Pasuruan, Nganjuk, Cirebon, Borneo and Kediri. In the meeting it was agreed that it would be soon formed a container Pencak Silat NU.
Team Building Official Decree College Preparation Establishment Pencak Silat owned NU passes 27th Rabiul Awal 1406/10 December 1985 and valid until January 15, 1986.
Deliberations were held at boarding school Lirboyo Kediri East Java on January 3, 1986. pertmuan the present leaders of the martial arts, among others Pasuruan, Ponorogo, Jombang, Nganjuk, Cirebon, Borneo, Lumajang and Kediri. While the envoy of the East Java PWNU K. Bukhari Susanto from Lumajang and K. Suhar Billah SH.LL.T of Boarding Schools An Najiyah Sidosermo Surabaya.
In the meeting it was agreed that the composition of the daily East Java which is the embryo of the central committee as follows:
      Chairman: KH. Agus Maksum Djauhari
      Secretary: Drs. H. Fuad Anwar
      Chief Executive: KH. Drs. Abdur Rahman Othman
      Chairman I: H. Suhar Billah, SH.LLT
      Secretary: Drs. H. Fuad Anwar
      Secretary: Drs. Kuncoro
      Secretary II: Ashar Lamro
The name is the Institute agreed Pencak Silat abbreviated NU LPSNU. At the time of hearing by the East Java NU Regional Board proposed name by KH. Anas Thohir as East Java NU Regional Board is Pencak Silat NU fence which stands dati Nusa NU fences and Nation. The name was created by KH. Mujib Ridlwan of Surabaya, the son of KH. Ridlwan Abdullah, creator symbol NU. The symbol consists of five terms with the green base color with a globe in it, no ribbon inscribed front Laa Gholiba illa meaning billah No one wins except by the help of God. Equipped with nine star and trident as a symbol of martial arts. The symbol on the proposed by H. Suhar SH.LLT Billah. which is then perfected and transformed into pentagon by workshop participants at boarding school cane III Ireng Jombang. KH. Sansuri Baidlowi as elders and advisers who had attended the event confirms that:
      The logo reads: Laa Gholiba illallah
      Changed to: Laa Gholiba illa Billah
To establish the composition of the Board at National, NU made the cover letter kesdiaan appointed administrators. The cover letter was signed by the Chairman of the NU KH. Abdurrahman Wachid and Rais Aam KH. Achmad Sidiq (Insha Allah signature KH. Achmad Siddiq is the last signature).
      Pencak Silat NU Institute Nusa Fence in meeting organizational demands I hold a General Assembly held at Zainul Hasan Islamic boarding school in East Java Genggong Kraksaan Probolinggo. Willingness letter signed by KH occupied. Saifurrizal (Insha Allah is the last signature). Determination of the date of execution is determined by the General Assembly Kiai I own the 20-23 September 1991 which was the date of his death was 100 days. So at the time of opening was held tahlil first. In accordance with the results of NU Congress in Cipasung, Pencak Silat NU Fencing Institute Nusa lembga to change the status of an autonomous body. Then at NU in Lirboyo Kediri Muktamr Autonomous Bodies returned status changed to the Institute.
      Fences II National Conference held in Las Padepokan IPSI Taman Mini Indonesia Indah in Jakarta on January 22, 2001, which followed the representatives of LPS Territories NU Nusa existing fences throughout Indonesia, among others: East Java, Central Java, West Java, Lampung, Riau , Bali, Kalimantan, and Sulawesi. Especially for East Java postscript is the central development Pagar Nusa IPS NU mengerhakan all existing branches in 35 districts / cities in East Java and representatives from boarding school to participate in the implementation of General Assembly II in Jakarta. At the National Conference was opened by the KH II. Abdurrahman Wachid which at the time was the fourth President. The agenda discussed in the National Conference II, among others:
Ø Organization: Discussing problems Basic Rules and Regulations Household (PD / PRT) LPS NU Nusa Fence.
Ø The SURE-an: Discussing problems SURE and other devices which include uniforms and attributes, membership, and coaching.
Ø Technique and Jutsu: Discuss, explore and refine the moves that have been held by the Nusa Fence IPS NU then didokumetasikan in the form of Hard Copy (book) and Soft Copy (VCD cassette).
Currently IPS NU Nusa Fences have specific uniforms, among others:
Ø Uniform Athletes
Shirt and black pants with IPSI badge and badge chest right next to the chest Nusa fence post greatness comes green belt tied with a slip knot on the right.
Ø Uniform Force Core (SURE) Son
Long sleeve black shirt, black pants, black shoes PDH using predefined attributes.
Ø Uniform Force Core (SURE) Daughter
Blaser (coat) black, black scarf, black pants and black shoes PDH with predefined attributes.
Ø Uniform Board
Shirt and black pants, wearing a white coat and a black berkopyah PDH black shoes.
Ø Uniform Board Khos
As the uniform board plus a special symbol
Ø Uniform Greatness
Black robes were worn only at national events.

Gus infallible role in the suppression of the PKI
Once separated from Dutch colonialism, the history of Indonesia still faces many problems in various fields, kususnya economic, social, political, and security. Many issues come and go, and the most tragic and recorded in red ink is an event G-30 / S PKI (GESTAPU) Which is the PKI effort to seize state power. Lirboyo Central Role In PKI Currently Crushing erupted Lirboyo G-30S/PKI event is mecca people struggle in the ex-Karisedenan Kediri. The central role that can not be separated from a long history of leading Lirboyo society since the days of Dutch colonialism and Japanese. Troops MAP for example, formed in Lirboyo and started initiatives Kiai Ibrahim (Banjar jasmine, Kiai-law Abdul Karim), while the Hezbollah-Sabilillah Warriors in Kediri, sponsored by Kiai Mahrus Aly, who later on became the embryo formation Kodam V UB. The central role not just stop there, the days of unilateral action PKI rebellion being waged in various regions of the caregivers Lirboyo raise awareness to action. When Kiai Mahrus Madiun Aly with his students went to Madison to quell rebellions PKI disana.Kiai Mahrus Aly joined the brigade and managed to quell the rebellion S.Soerahmad there. Gus Maksum as close Kiai Mahrus Aly didapuk every field commander crackdown. Commander crackdown PKI sabotage and terrorism unilateral action taken PKI almost penetrated throughout the archipelago, Kediri district which is home Gus Maksum also not spared from the ongoing protests. Kidnapping, land grabbing, murders and other brutal acts almost adorn life Kediri regency. Seeing action arbitrary, Gus Maksum have faith that the PKI had been as a political party officially recognized by the government have committed treason and wanted to seize power and change into communist ideology Pancasila. As Muslims Gus Maksum is not willing, if the State is turning into a communist state. Armed with the ability he has, Gus Maksum as a very young then (age 18 years) has been given the mandate to become the Commander of Anti PKI, He who dare openly proclaim "Down with the Communist Party" in Kediri. And it has been proved by his actions. Events Watu Ompak PKI strategy to make them always make a coup unrest and provocation, one provocation PKI is challenging GP ANSOR to play a martial arts regularly once a month, by coincidence on the part of PKI many feel good at martial arts. The challenge was addressed to the three schools dikecamatan Prambon, Nganjuk the boarding Selo Court, Bandung and Kedungsari. Originally Ansor invitation is considered a form of cement persahabatan.Namun every match was held, ridicule, agitation, provocation and terror constantly asked the PKI. Peak matches that were held in the village of Watu Ompak, Prambon atmosphere was so hot. Fighter of the PKI looked confident, knowing at that time very dominant PKI Prambon area. They continue to provoke Ansor "I was a walk to hell" and the words good as them. But the warriors of the indirect action Ansor they await the arrival of Gus Maksum of Kediri. Gus Maksum came and went up kearena shouting match with takbir "Allohu Akbar". At that time people see Gus Maksum hair stood up and pulled the fire, look it up lads Ansor prowess and directly attack the PKI was then spontaneously began to fear that the PKI many fled. Terror Kanigoro boarding care Kanigoro Kiai Jauhari often used as a mental training (TC) by PII (Indonesian Islamic students) all new TC Jatim.Saat last a few days, on January 13, 1965 early morning at around 4:30, the event is being held istighosah. When the event is in progress with the solemn, suddenly hordes of PR (Young People), BTI (Barisan Tani Indonesia) and underbow other PKI-underbow incoming attack and undermine the proceedings. Herd numbers approximately one thousand people led by the chief steward named Soerjadi PR Branch, PKI dare to commit such acts because they are the majority of Muslims, while there is only about 10% of the total population Kanigoro. Armed with saber, machetes, hammers, pistols and even raided the mosque, damaging, punching and attacking the participants TC, Kiai, scholars and anyone there. They destroyed anything in it, including trampling on the Koran and treat women beyond the bounds of decency. Accompanied by slogans such as "crush students', crush the turban" and others, they held the Kiai TC participants and scholars, including scholars Jauhari, and they were handed over to the police station Kras. Hearing that, around 08.00 am, Gus Maksum currently exists in Lirboyo immediately drove to the police station Kras. But when he got there the hostages had been released, Gus Maksumpun heading Kanigoro and get them in a safe state, While still looked frightened and traumatized at the events they had just experienced, when they were about to come home each of them many are still traumatized and frightened the many women who weep for fear amid jalan.Maklum PKI blocked the route of Kanigoro towards the highway (highway Tulung grand-kediri) is a little far right and left are quiet and there is no settlement, Gus Maksum ahirnya escorting them alone and continue to keep them to get a vehicle. Terror Kanigoro gets very loud reaction from Muslims, kususnya Kediri, and terror-terror continued unabated, was not long for the incident, Banser GP Ansor deployed under the command of Gus Maksum 8 trucks pounding PKI Kanigoro personnel.

 FORCES IN THE FENCE NUSA

1.PASNAS
2.PASDA
3.PASTI

SYMBOLS AND MEANING



NUSA Symbol SYMBOL FENCE Fence Nusa LPS is an image with text on LAA GHAALIBA Tape Illa Billah surrounding the globe in the pentagon curve with some attributes and the details as follows:
    Curves pentagon is a symbol of the Islamic Shari'ah which has five pillars and a symbol in the sense of devotion to the nation and the state berpancasila.
   Three lines are parallel to the edge of the curve is a symbol of the three main patterns that run together in a way of life that residents NU Iman, Islam and Ihsan.
      Stars corner five to nine pieces with a circular pattern over the globe and at the very top of this great star appears more an expression of a pattern of leadership songo guardian and idealization of an ideal that is maximal because besides star is a symbol of glory also the number nine is the highest.
Ø Picture branches / trident is located in the center of the ball just below the top of the world's biggest stars is a manifestation of the historical fact that the weapon type is the oldest and widely spread over the archipelago on earth. As a member of a group of martial arts martial arts Pencak Silat Indonesia (IPSI), Fences Nusa insert symbols so as not to cut off from the unity of the identity of the original martial arts of Indonesia.
Ø globe right in the middle is a hallmark of the organization underbrow NU a major symbol in the form of earth and slapped hands as in the first described by KH. Ridwan Abdullah istikharahnya unfounded.
Ø tape surrounding the earth with the words Laa Ghaaliba Illaa Billah which means no one wins (beating) but with the help of God is a typical martial values ​​Nusa fence. This sentence is in its formative reads Laa Ghaaliba illallah then by KH. Sansuri Badawi recommended to be added to read as it is now ba
Ø Colour Green and White are the two colors that are universally good meaning. Because everything is clean and pure both material (physical) and immaterial (non-physical) can be symbolized by the color white. While things can always be happy with the color green symbolized. The white color is a bright color for people who gain happiness in the afterlife. The green color is a color specialist clothing heaven is a place of human happiness.
Curves pentagon is a symbol of Syariâ € ™ at the five pillars of Islam that has and is a symbol in the sense of devotion to the nation and the state berpancasila. Symbolization depart from the basic understanding of the pillars of Islam that the Prophet SAW convey: Islam is didirika top five: Testifying that there is no god but Allah and Muhammad is the messenger of Allah, establish prayer, pay the obligatory charity, pilgrimage to the House for those who can afford, and fasting Ramadhan ( HR Bukhory) Three lines are parallel to the edge of the curve is a symbol of the three main patterns were walking together in the way of life of citizens NU is Iman, Islam, Ihsan as the Hadith of the Prophet sawa when asked by Malakat Gabriel. Stars corner five to nine pieces with a circular pattern over the globe and at the very top of this great star appears more an expression of a pattern of leadership songo guardian and idealization of an ideal that is maximal because besides star is a symbol of glory also the number nine is the highest. This corresponds to dream about the Prophet Yusuf stars as cue to reach glory. Allah SWT says:
When Joseph said unto his father: O my father! I bemimpi saw eleven stars, the sun, and the moon; see all bow down to me. (QS.Yusuf: 4) The biggest star suggests a pattern of leadership in Islam is a must. Picture branches / trident is located in the middle of the ball just below the top of the world's biggest stars is a manifestation of the historical fact that the weapon type is the oldest and widely spread over the archipelago on earth. As a member of a group of martial arts martial arts Pencak Silat Indonesia (IPSI), Fences Nusa enter symbols so as not to cut off from the unity of the identity of the original martial arts of Indonesia. As we understand together: He who separates himself from the edible wolf
Globe / images right in the center of the earth are the hallmark of the organization's symbols underbow NU are primarily in the form of earth and slapped hands as in the first described by KH. ABDULLAH RIDWAN based Istikharahnya. Ribbon surrounding the earth with the words LAA GHAALIBA ILLAA Billah Which means no one wins (beating) but with the help of God is a typical martial values ​​Nusa fence. This sentence is in its formative reads LAA GHAALIBA ILLALLAH then by KH Sansuri Badawi recommended to be given additional ba to read as it is now. This is consistent with the pattern of the sentence on the sentence LAA HAULA Walaa QUWWATA ILLAA bekonotasi Billah the general (am) for all areas of life. Meanwhile, in particular (typical) by taking Tibar that the Quran activities involving martial physical and non physical so much as mentioned by using a phrase that comes from the root word ghalaba, then Pagar Nusa use the phrase as contained in the symbol of God's Word:
  If Allah helps you, then no one can beat you (Surah Ali Imron: 160)
 
People who believe that they must meet God said: How many a little can beat a lot of classes with the permission of Allah (Surat al-Baqara: 24

And those who take Allah, His Messenger, and those who believe to be his salvation, then indeed followers (religion) of Allah which will be victorious. (Surat al-Maa-idah: 56).

Colour Green and white are two colors that are universally good meaning. Because everything is clean and pure both material (physical) and immaterial (non-physical) dapat symbolized by the color white. As for the things that are cool, lush, prosperous, calm, pleasing to the eye and others that happiness always be symbolized by the color green.
White color is a bright color for people who earn kebahagiaan in the afterlife. The green color is the color of heaven, which is where the expert human happiness, as described by Allah SWT. :
As such it is a combination of color and color combination idolized scenery in Heaven someday. They wear green garments of fine silk and thick silk and applied to those bracelets made of silver, and the Lord gave them a clean drink. (Surah Al-Insaan 21)
They are the paradise for them, flushed rivers beneath: in heaven they adorned with bracelets of gold and they wear green garments of fine silk and thick silk, while they sat leaning over the beautiful couches. That's the best reward, and a wonderful break. (QS.Kahfi: 31).

KEGIATAN PAGAR NUSA 



Drama Atrakasi PAGAR NUSA Pondok Pesantren Tri Bakti AL- Husna - Purbolinggo EXPO II 2012

Pada hari kedua Purbolinggo EXPO II 2012 (Selasa 11 Oktober 2012) diselenggarakan Drama Atrakasi PAGAR NUSA dan Pagelaran Hadroh dari Pondok Pesantren Tri Bakti AL- Husna  Tanjung Kesuma Kec. Purbolinggo, Lampung Timur.



Selasa, Juni 12

Syaikh Muhammad Abdul Malik Purwokerto

Mursyid sederhana dan penyayang santri miskin
Purwokerto adalah ibukota kabupaten Banyumas, Jawa Tengah yang terletak di selatan Gunung Slamet, salah satu gunung berapi yang masih aktif di pulau Jawa. Purwokerto merupakan salah satu pusat perdagangan dan pendidikan di kawasan selatan Jawa Tengah.
Sementara kabupaten Banyumas sendiri merupakan sebuah kawasan kebudayaan yang memiliki ciri khas tertentu di antara keanekaragaman budaya Jawa yang disebut sebagai budaya Banyumasan. Ciri khas ini ditandai dengan kekhasan dialek bahasa, citra seni dan tipologi masyarakatnya.
Bentang alam wilayah banyumasan berupa dataran tinggi dan pegunungan serta lembah-lembah dengan bentangan sungai-sungai yang menjamin kelangsungan pertanian dengan irigasi tradisional. kondisi yang demikian membenarkan kenyataan kesuburan wilayah ini (gemah ripah loh jinawi).
Dulunya, kawasan ini adalah tempat penyingkiran para pengikut Pangeran Diponegoro setelah perlawanan mereka dipatahkan oleh Kompeni Belanda. Maka tidak aneh, bila hingga masa kini masih terdapat banyak sekali keluarga-keluarga yang memiliki silsilah hingga Pangeran Diponegoro dan para tokoh pengikutnya.
Keluarga-keluarga keturunan Pangeran Diponegoro dan tokoh-tokohnya yang telah menyingkir dari pusat kerajaan Matararam waktu itu, kemudian menurunkan para pemimpin bangsa dan tokoh-tokoh ulama hingga saat ini.
Salah satu dari sekian banyak tokoh ulama keturunan Pangeran Diponegoro di kawasan Banyumas ini adalah Syekh Abdul Malik bin Muhammad Ilyas, Mursyid Thariqoh Naqsyabandiyah Kholidiyah dan Thariqoh Syadzaliyah di Jawa Tengah.
Silsilah dan Pendidikan
Sudah menjadi tradisi di kawasan Banyumasan kala itu, apabila ada seorang ibu hendak melahirkan, maka dihamparkanlah tikar di atas lantai sebagai tempat bersalin. Suatu saat ada seorang ibu yang telah mempersiapkan persalinannya sesuai tradisi tersebut, namun rupanya sang bayi tidak juga kunjung terlahir. Melihat hal ini, maka sang suami segera memerintahkan istrinya untuk pindah ke tempat tidur dan menjalani persalinan di atas ranjang saja. Tak berapa lama terlahirlah seorang bayi mungil yang kemudian dinamakan Muhammad Ash’ad, artinya Muhammad yang naik (dari tikar ke tempat tidur). Peristiwa ini terjadi di Kedung Paruk Purwokerto, pada hari Jum’at, tanggal 3 Rajab tahun 1294 H. (1881 M.) Nama lengkapnya adalah Muhammad Ash’ad bin Muhammad Ilyas. Kelak bayi mungil ini lebih dikenal sebagai Syeikh Muhammad Abdul Malik Kedung Paruk Purwokerto.
Beliau merupakan keturunan Pangeran Diponegoro berdasarkan “Surat Kekancingan” (semacam surat pernyataan kelahiran) dari pustaka Kraton Yogyakarta dengan rincian Muhammad Ash’ad, Abdul Malik bin Muhammad Ilyas bin Raden Mas Haji Ali Dipowongso bin HPA. Diponegoro II bin HPA. Diponegoro I (Abdul Hamid) bin Kanjeng Sultan Hamengku Buwono III Yogyakarta. Nama Abdul Malik diperoleh dari sang ayah ketika mengajaknya menunaikan ibadah haji bersama.
Sejak kecil, Abdul Malik memperoleh pengasuhan dan pendidikan secara langsung dari kedua orang tuanya. Setelah belajar al-Qur’an kepada ayahnya, Abdul Malik diperintahkan untuk melanjutkan pendidikannya kepada Kyai Abu bakar bin Haji Yahya Ngasinan, Kebasen, Banyumas.
Selain itu, ia juga memperoleh pendidikan dan pengasuhan dari saudara-saudaranya yang berada di Sokaraja,sebuah kecamatan di sebelah timur Purwokerto. Di Sokaraja ini terdapat saudara Abdul Malik yang bernama Kyai Muhammad Affandi, seorang ulama sekaligus saudagar kaya raya. Memiliki beberapa kapal haji yang dipergunakan untuk perjalanan menuju Tanah Suci.
Ketika menginjak usia 18 tahun, Abdul Malik dikirim ke Tanah Suci untuk menimba ilmu agama. Di sana ia mempelajari berbagai didiplin ilmu agama, seperti Tafsir, Ulumul Qur’an, Hadits, Fiqih, Tasawuf dan lain-lain. Pada tahun 1327 H. Abdul Malik pulang ke kampung halaman setelah kurang lebih 15 tahun belajar di Tanah Haram. Selanjutnya ia berkhidmat kepada kedua orang tuanya yang sudah sepuh (lanjut usia). Lima tahun kemudian (1333 H.) ayahandanya (Muhammad Ilyas) meninggal dalam usia 170 tahun dan dimakamkan di Sokaraja.
Sepeninggal ayahnya, Abdul Malik muda berkeinginan melakukan perjalanan ke daerah-daerah sekitar Banyumas, seperti Semarang, Pekalongan, Yogyakarta dengan berjalan kaki. Perjalanan ini diakhiri tepat pada seratus hari wafatnya sang ayah. Abdul Malik kemudian tinggal dan menetap di Kedung Paruk bersama ibundanya, Nyai Zainab. Sejak saat ini, ia kemudian lebih dikenal sebagai Syeikh Abdul Malik Kedung Paruk.
Guru-Guru
Syeikh Abdul Malik mempunyai banyak guru, baik selama belajar di Tanah Air maupun di Tanah Suci. Di antara guru-gurunya adalah Syekh Muhammad Mahfudz bin Abdullah at-Tirmisi al-Jawi, Sayyid Umar as-Syatha’ dan Sayyid Muhammad Syatha’, keduanya merupakan ulama besar Makkah dan Imam Masjidil Haram dan Sayyid Alwi Syihab bin Shalih bin Aqil bin Yahya.
Sebelum berangkat ke tanah Suci, Syeikh Abdul Malik sempat berguru kepada Kyai Muhammad Sholeh bin Umar Darat Semarang, Sayyid Habib Ahmad Fad’aq (seorang ulama besar yang berusia cukup panjang, wafat dalam usia 141 tahun), Habib ‘Aththas Abu Bakar al-Atthas; Habib Muhammad bin Idrus al-Habsyi, Surabaya; Sayyid Habib Abdullah bin Muhsin Al-Atthas Bogor.
Sanad Thoriqah Naqsabandiyah Kholidiyah diperolehnya secara langsung dari sang ayah, Syaikh Muhammad Ilyas; sedangkan sanad Thoriqah Sadzaliyah didapatkannya dari Sayyid Ahmad Nahrawi Al-Makki (Mekkah).
Selama bermukim di Makkah, Syeikh Abdul Malik diangkat oleh pemerintah Arab Saudi sebagai Wakil Mufti Madzhab Syafi’i, diberi kesempatan untuk mengajar berbagai ilmu agama termasuk, tafsir dan qira’ah sab’ah. Sempat menerima kehormatan berupa rumah tinggal yang terletak di sekitar Masjidil Haram atau tepatnya di dekat Jabal Qubes.
Menurut beberapa santrinya, Syekh Abdul Malik sebenarnya tinggal di Makkah selama kurang lebih 35 tahun, tetapi tidak dalam suatu waktu. Di samping belajar di tanah Suci selama 15 tahun, ia juga seringkali membimbing jamaah haji Indonesia asal Banyumas, bekerjasama dengan Syeikh Mathar Makkah. Aktivitas ini dilakukan dalam waktu yang relatif lama, jadi sebenarnya, masa 35 tahun itu tidaklah mutlak.
Perjuangan Fisik
Adalah tidak benar, jika para ulama ahli tasawuf disebut sebagai para pemalas, bodoh, kumal dan mengabaikan urusan-urusan duniawi. Meski tidak berpakaian Necis, namun mereka senantiasa tanggap terhadap berbagai kejadian yang ada di sekitarnya. Ketika zaman bergolak dalam revolusi fisik untuk melepaskan diri dari belenggu penjajahan bangsa asing, para ulama ahli Thoriqoh senyatanya juga turut berjuang dalam satu tarikan nafas demi memerdekakan bangsanya.
Pada masa-masa sulit zaman penjajahan Belanda dan Jepang, Syeikh Abdul Malik senantiasa gigih berdakwah. Karena aktivitasnya ini, maka ia pun menjadi salah satu target penangkapan tentara-tentara kolonial. Mereka sangat khawatir pada pengaruh dakwahnya yang mempengaruhi rakyat Indonesia untuk memberontak terhadap penjajah. Menghadapi situasi seperti ini, ia justru meleburkan diri dalam laskar-laskar rakyat. Sebagaimana Pangeran Diponegoro, leluhurnya yang berbaur bersama rakyat untuk menentang penjajahan Belanda, maka ia pun senantiasa menyuntikkan semangat perjuangan terhadap para gerilyawan di perbukitan Gunung Slamet.
Pada masa Gestapu, Syeikh Abdul Malik juga sempat ditahan oleh PKI. Bersamanya, ditangkap pula Habib Hasyim al-Quthban Yogyakarta, ketika sedang bepergian menuju daerah Bumiayu Brebes untuk memberikan ilmu kekebalan atau kesaktian kepada para laskar pemuda Islam. Dalam tahanan ini, Habib Hasyim al-Quthban mengalami shock dan akhirnya meninggal, sedangkan Syekh Abdul Malik masih hidup dan akhirnya dibebaskan.
Kepribadian
Dalam hidupnya, Syeikh Abdul Malik memiliki dua amalan wirid utama dan sangat besar, yaitu membaca al-Qur’an dan Shalawat. Dikenal sebagai ulama yang mempunyai berkepribadian sabar, zuhud, tawadhu dan sifat-sifat kemuliaan yang menunjukan ketinggian akhlakul karimah. Maka amat wajarlah bila masyarakat Banyumas dan sekitarnya sangat mencintai dan menghormatinya.
Syeikh Abdul Malik adalah pribadi yang sangat sederhana, santun dan ramah kepada siapa saja. Beliau juga gemar sekali melakukan silaturrahim kepada murid-muridnya, terutama kepada mereka yang miskin atau sedang mengalami kesulitan hidup. Santri-santri yang biasa dikunjunginya ini, selain mereka yang tinggal di Kedung Paruk maupun di desa-desa sekitarnya seperti Ledug, Pliken, Sokaraja, dukuh waluh, Bojong, juga sanri-santri lain yang tinggal di tempat jauh.
Setiap hari Selasa pagi, dengan bersepeda, naik becak atau dokar, Syeikh Abdul Malik mengunjungi murid-muridnya untuk membagi-bagikan beras, uang dan terkadang pakaian, sambil mengingatkan kepada mereka untuk datang pada acara pengajian Selasanan. Acara ini merupakan forum silaturrahim bagi para pengikut Thoriqah Naqsyabandiyah Kholidiyah Kedung paruk yang diisi dengan pengajian dan tawajjuhan.
Syeikh Abdul Malik juga dikenal memiliki hubungan baik dengan para ulama dan habaib, Bahkan dianggap sebagai guru bagi mereka, seperti KH Hasan Mangli (Magelang), Habib Soleh bin Muhsin al-Hamid (Tanggul, Jember), Habib Ahmad Bafaqih (Yogyakarta), Habib Husein bin Hadi (Brani, Probolinggo), dan lain-lain.
Termasuk di antara para ulama yang sering berkunjung ke kediaman Syeikh Abdul Malik ini adalah Syeikh Ma’shum (Lasem, Rembang) yang sering mengaji kitab Ibnu Aqil Syarah Alfiyah Ibnu Malik sebagai tabarruk (meminta barakah) kepadanya. Demikian pula dengan Mbah Dimyathi (Comal, Pemalang), KH Kholil (Sirampog, Brebes), KH Anshori (Linggapura, Brebes), KH Nuh (Pageraji, Banyumas). Para ulama ini merupakan kiai-kiai yang hafal Al-Qur’an, namun tetap belajar ilmu al-Qur’an kepada Syeikh Muhammad Abdul Malik Kedung Paruk.
Sementara itu, murid-murid langsung dari Syeikh Abdul Malik di antaranya adalah KH Abdul Qadir, Kiai Sa’id, KH Muhammad Ilyas Noor (mursyid Thoriqah Naqsabandiyah Kholidiyah), KH Sahlan (Pekalongan), Drs. Ali Abu Bakar Bashalah (Yogyakarta), KH Hisyam Zaini (Jakarta), Habib Muhammad Luthfi bin Ali bin Yahya (Pekalongan), KH Ma’shum (Purwokerto) dan lain-lain.
Selain, menularkan ilmunya kepada santri-santi yang kemudian menjadi ulama dan pemimpin umat, Syeikh Abdul Malik juga memiliki santri-santri dari berbagai kalangan, seperti Haji Hambali Kudus, seorang pedagang yang dermawan dan tidak pernah rugi dalam aktivitas dagangnya dan Kyai Abdul Hadi Klaten, seorang penjudi yang kemudian bertaubat dan menjadi hamba Allah yang shaleh dan gemar beribadah.
Keluarga
Syeikh Muhammad Abdul Malik bin Muhammad Ilyas menikahi tiga orang istri, dua di antaranya dikaruniai keturunan. Istri pertamanya adalah Nyai Hajjah Warsiti binti Abu Bakar yang lebih dikenal dengan nama Mbah Johar. Seorang wanita terpandang, puteri gurunya, K Abu Bakar bin H Yahya Kelewedi Ngasinan, Kebasen. Istri pertama ini kemudian dicerai setelah dikaruniai seorang anak lelaki bernama Ahmad Busyairi (wafat tahun 1953, pada usia sekitar 30 tahun).
Ada sebuah cerita unik tentang putera pertamanya ini. Ahmad Busyairi adalah seorang pemuda yang meninggal dunia sebelum sempat menikah. Suatu hari Syeikh Abdul Malik berkata padanya, “Nak, besok kamu menikah di surga saja ya?” Mendengar ayahnya bertutur demikian, muka Busyairi terlihat ceria dan hatinya merasa sangat gembira. Beberapa waktu kemudian, ia meninggal sebelum berkesempatan menikah.
Istri kedua Syeikh Abdul Malik adalah Mbah Mrenek, seorang janda kaya raya dari desa Mrenek, Maos Cilacap. Pernikahan ini tidak dikaruniai anak. Istimewanya, suatu hari Syeikh Abdul Malik hendak menceraikannya, namun Mbah Mrenek berkata, “Pak Kyai, meskipun Panjenengan (Anda) tidak lagi menyukai saya, tapi tolong jangan ceraikan saya. Yang penting saya diakui menjadi istri Anda, dunia dan akhirat.” Mendengar permintaan ini, Syeikh Abdul Malik pun tidak jadi menceraikannya.
Sedangkan istri ketiga-nya adalah Nyai Hj. Siti Khasanah, seorang wanita cantik dan shalihah, tetangganya sendiri. Pernikahan ini, dikaruniai seorang anak perempuan bernama Hj. Siti Khairiyyah yang wafat empat tahun sepeninggal Syekh Abdul Malik. Dari puterinya inilah nasab Syeikh Abdul Malik diteruskan.
Pesan dan Berpulang
Salah seorang cucu Syeikh Abdul Malik mengatakan, ada tiga pesan dan wasiat yang disampaikan Beliau kepada cucu-cucunya. Pertama, jangan meninggalkan shalat. Tegakkan shalat sebagaimana telah dicontohkan Rasululah SAW. Lakukan shalat fardhu pada waktunya secara berjama’ah. Perbanyak shalat sunnah serta ajarkan kepada para generasi penerus sedini mungkin.
Kedua, jangan tinggalkan membaca al-Qur’an. Baca dan pelajari setiap hari serta ajarkan sendiri sedini mungkin kepada anak-anak. Sebarkan al-Qur’an di mana pun berada. Jadikan sebagai pedoman hidup dan lantunkan dengan suara merdu. Hormati orang-orang yang hafal al-Qur’an dan qari’-qari’ah serta muliakan tempat-tempat pelestariannya.
Ketiga, jangan tinggalkan membaca shalawat, baca dan amalkan setiap hari. Contoh dan teladani kehidupan Rasulullah SAW serta tegakkanlah sunnah-sunnahnya. Sebarkan bacaan shalawat Rasulullah, selamatkan dan sebarluaskan ajarannya.
Pada hari Kamis, 21 Jumadil Akhir 1400 H. yang bertepatan dengan 17 April 1980 M. sekitar pukul 18.30 WIB (malam Jum’at), Syekh Abdul Malik meminta izin kepada istrinya untuk melakukan shalat Isya’ dan masuk ke dalam kamar khalwat-nya. Tiga puluh menit kemudian, salah seorang cucunya mengetuk kamar tersebut, namun tidak ada jawaban. Setelah pintu dibuka, rupanya sang mursyid telah berbaring dengan posisi kepala di utara dan kaki di selatan, tanpa sehela nafas pun berhembus. Syeikh Abdul Malik kemudian dimakamkan pada hari Jum’at, selepas shalat Ashar di belakang Masjid Bahaul Haq wa Dhiyauddin Kedung Paruk, Purwokerto.

SEJARAH PAGAR NUSA GASMI

GASMI

 

SEJARAH BERDIRINYA PAGARNUSA GASMI(Gerakan Aksi Silat Muslimin Indonesia)
GASMI(Gerakan Aksi Silat Muslimin Indonesia) adalah perguruan pencak silat yang didikan oleh Gus maksum Jauhari(ponpes Lirboyo,Kedii).Awalnya GASMI di dirikan untuk menampung seni –seni pencak silat yang beliau ajarkan kepada santri yang menimba ilmu silat kepada beliau.
Sedangkan untuk biografi ,Gus maksum adalah tokoh persilatan yang sudah sangat terkenal didunia persilatan nusantara,siapa yang tidak kenal beliau?beliau sudah malang melintang dalam panggung adu kedigdayaan para pendekar nusantara.Gus maksum terkenal dengan sebutan Si rambut api,karna saat beliau menjadi komandan pasukan penumpas PKI,di tengah pertempuran rambut beliau berubah menjadi bara api yang menyala hingga para penganut paham PKI dapat dimusnahkan dari nusantara.Dan konon hanya ibunda beliau yang sanggup memotong rambut beliau.
Seiring berkembangnya zaman dan Indonesia mempunyai organisasi silat IPSI(Ikatan Pencak Silat Indonesia) ,Gus maksum dan para kiyai-kiyai nahdlotul Ulama’ seluruh nusantara mengadakan rapat untuk membentuk organisasi silat yang bisa masuk IPSI serta mampu mewadai perguruan-perguruan yang ada di bawah naungan organisasi NU,maka rapat yang di adakan di PonPes Lirboyo Kediri itupun meng hasilkan terbentuknya PAGAR NU dan BANGSA yang di singkat PAGARNUSA,pada tahun 1988 akhirnya organisasi ini masuk IPSI,dan mewadai perguruan- perguruan dibawah panji NU seperti perguruan GASMI,perguruan BATARA,perguruan CIMANDE,perguruan SAPUJAGAD,perguruan NH,perguruan CAKRA dll
Selain Gus maksum terpilih sebagai ketua Pagarnusa beliau juga terus mengembangkan Gasmi keseluruh penjuru negeri,seperti diwilayah Kalimantan,Sulawesi,sumatera,jawa dll.
SEJARAH MASUKNYA GASMI DI KISMANTORO,KAB.WONOGIRI
Berawal dari rasa ketidak puasan sekelompok pemuda yang sering keluar masuk organisasi silat yang ada di kismantoro,mereka adalah Pak Rohani,kang Roni,kang Bilal,kang kawit.kang paru dkk,mereka merasakan ada yang kurang dengan organisasi yang mereka Pernah coba masuki karna organisasi-organisasi itu tidak pernah mewakili spirit kerohanian yang dapat menyeimbangkan gerakan fisik dan jiwa spiritual atau inner power di dalam jiwa mereka.Akhirnya mereka dipertemukan dengan para pelatih GASMI PONOROGO oleh kang Tono yang sudah mengikuti latihan terlebih dulu di ponorogo yaitu Kang MUN,kang Medul,kang Shadiq dll ,mereka sepakat mengadakan latihan dan latihan pertama kali di adakantahun 2002 di halaman masjid Pelem,Kembangan,Gesing,Kismantoro dengan diikuti 36 siswa dan 30 siswa yang lolos menjadi waga dan berhak menyandang gelar pendekar yang telah diberi ijazah tenaga dalam oleh Gus maksum .
Awal-awal berdirinya GASMI di kismantoro mendapatkan tentangan yang sangat keras oleh organisasi silat yang sudah ada terlebih dahulu diwilayah kismantoro,tantangan itu berupa intimidasi fisik maupun psikis namun karna izin Allah gasmi Pagarnusa berkembang sangat pesat dan hingga kini mencapai ribuan siswa yang telah lulus menjadi warga dan pendekar.


PERKEMBANGAN PAGARNUSA GASMI DI KISMANTORO
Hingga kini ada 4 ranting tempat latihan GASMI di Kismantoro yaitu
Ranting GESING tempat latihan Cingklok gesing
team pelatih
1.kang mas’udi alghifari
2.kang kamto aljufri
3.kang karni
4.kang aris santoso
5.Kang pokarno aliyuddin
6.kang ibnu
7.kang Togel
Dll
Ranting GAMBIRANOM tempat latihan rumah Bp wanto geneng Gambiranom
team pelatih 1.kang wanto(jogo boyo)
2. kang Amin(BKK)
3. kang imblek
4. kang rony
5. Kang codot
6. kang munir
7. kang coro
Dll
Ranting GEDAWUNG tempat latihan mojo,miri Gedawung
team pelatih 1.kang rohani
2. kang kawit
3. kang anas
4. kang joko
5. Kang bilal
6. kang taufiq
7. kang nardi
Dll
Ranting LEMAHBANGtempat latihan setren lemahbang
team pelatih 1.kang fachrudin)
2. kang jumikun
3. kang joko
4.kang widodo
5.Kang pardi
6. kang ilham
7.kang marjoko

Selasa, Juni 5

Fenomena dirinya kh.Gus Maksum

Setiap orang pasti memiliki kelebihan pada dirinya,hal ini juga terdapat pada figure seorang Gus Maksum,kisah-kisah berikut ini adalah berdasarkan fakta yang diceritakan langsung oleh beberapa nara sumber baik yang ikut bersama Gus Maksum maupun yang melihat langsung kejadian-kejadian itu.Fenomena-fenomena keluarbiasaan ini disangkalnya tatkala dikonfirmasi kepada beliau ketika masih hidup.Beliau selalu mengatakan bahwa kejadian-kejadian yang dialaminya itu semata-mata hanyalah atas izin dan pertolongan Allah tidak lebih dari itu


Keistimewaan sejak kecil


Keistimewaan-keistimewaan Gus Maksum sudah tampak sejak kecil.pada waktu itu Gus Maksum kecil mampu melompat melayang dari satu tiang ketiang yang lainnya di masjid Kanigoro,ia juga mampu berputar cepat diatas piring tanpa pecah laksana Gangsing,padahal waktu itu ia belum mahir ilmu silat.


Gus Maksum kecil juga pernah melempar seekor kuda seperti melempar sandal.padahal waktu itu bobot angkatan beliau tidak lebih dari 20 Kg.


Dimasa remaja Gus Maksum pernah membantu salah seorang familinya untuk memasang lembu bajakannya.ketika hendak memasang tiba-tiba lembu itu mengamuk dan dengan cepat dan kuat menerjang kearah dada Gus Maksum.dengan reflex  beliau menangkis dan berbalik menerkam,dan apa yang terjadi membuat semua orang yang melihatnya heran karena lembu itu terpelanting beberapa meter jauhnya,menanggapi kejadian tersebut Gus Maksum hanya berkata semua hanyalah kebetulan saja dan berkat pertolongan Allah SWT.


Rambut tidak mempan dipotong / Kyai Gondrong


Penampilan Gus Maksum dengan rambut gondrongnya bukan sekedar gaya atau hobi semata.Tetapi Rambut Gondrongnya itu merupakan sebuah ijazah yang didapat dari guru beliau yaitu Habib Baharun Mrican Kediri,hasil dari pengamalan itu sering terjadi keanehan keanehan terkait dengan rambut beliau ini,seperti rambut beliau bisa berdiri,bisa mengeluarkan api,serta tidak mempan dipotong.


Bukti daripada itu adalah,pada decade 1970-an beliau pernah terjaring razia rambut panjang.namun terjadi keanehan,setiap kali aparat  menggunting rambutnya,rambut itu tidak terpotong bahkan setiap gunting yang tajam beradu dengan rambut beliau selalu mengeluarkan percikan api.Kejadian ini pernah dimuat di harian republika.


Menaklukan Jin


Berbicara  tentang Gus Maksum orang awam biasanya akan langsung berasosiasi tentang jin,tapi apakah benar Gus Maksum memelihara jin seperti banyak diperbincangkan orang?

Anggapan ini tidaklah benar,yang benar Gus Maksum tidak pernah memelihara jin,tapi kalau beliau sering menaklukan jin yang mengganggu itu memang benar,Gus Maksum pernah menaklukan Patihnya jin namanya Jin Dempul ketika Gus Maksum menolong orang yang kesurupan,orang tersebut berhasil disembuhkan Gus Maksum setelah jin didalam tubuh orang itu berhasil ditaklukan.


Menghadapi puluhan orang sendirian


Salah satu  kisah yang menunjukan keberanian Gus Maksum adalah ketika beliau harus bentrok dengan orang-orang PKI di alun-alun.Gus Maksum yang waktu itu sangat muda usianya mampu mengalahkan mereka semua.

Dalam pertempuran itu Gus Maksum bukan hanya menggunakan olah kanuragan tapi juga dengan olah batinnya.


Peristiwa lain ketika Gus Maksum diundang menghadiri pertandingan silat di Kediri Timur,saat itu beliau bertarung melawan pendekar silat,jago duel dari berbagai macam aliran silat yang sudah berkumpul disitu.Karena telah memiliki bekal dan kemampuan yang terlatih sejak kecil Gus Maksum mengalahkan puluhan pesilat sendirian,Bahkan lawan terakhir  berhasil dikalahkan dengan sangat mudah peristiwa ini terjadi saat usia beliau 16 Tahun.

Dan itulah peristiwa paling dramatik membuat para pendekar lainnya harus mengakui kemampuan Gus Maksum di dunia persilatan


Ban bocor hanya dengan acungan jari


Saat NU masih menjadi partai massa NU sering bentrok dengan massa LDII dulu bernama Darul Hadits waktu itu termasuk underbow dari GOLKAR,suatu ketika massa LDII/Golkar berkonvoi melewati jalan depan Pesantren Lirboyo,saat itu Gus Maksum sedang menerima tamu.

Ketika arak-arakan itu sampai depan ndalem Gus Maksum,beliau langsung keluar karena mendengar bising suara knalpot dan klakson kendaraan yang memekakan telinga.Melihat gelagat yang kurang baik ini secara reflek Gus Maksum mengacungkan jari telunjuknya kearah mereka.keajaibanpun terjadi dengan serta merta seluruh ban kendaraan yang mereka tumpangi bocor secara serentak,karena bannya bocor rombongan konvoi itu tidak bisa melanjutkan arak-arakan.Akhirnya terpaksa mereka pulang dengan mendorong kendaraannya masing-masing.


Tidak mempan senjata tajam


Hal ini terbukti saat beliau melawan orang-orang PKI dahulu.Setiap Bacokan dan tebasan senjata tidak pernah bisa mengenai tubuh beliau,bahkan senjata lawan selalu berhenti jarak satu kilan dari tubuhnya.kalaupun ada yang sampai mengenai tubuh beliau,senjata-senjat tak ada satupun yang melukai beliau.

Keistimewaan ini juga terbukti ketika beliau di undang pengajian di daerah Sragen Jawa Tengah pada tahun 1999,Waktu itu tanpa ada sebab yang jelas tiba-tiba ada orang yang menikamnya Untungnya Gus Maksum tidak terluka sedikitpun hanya pakaian yang dipakai robek kena tikaman,lalu pakaian itupun beliau simpan karena pemberian dari salah seorang sahabatnya.


Tidak mempan di santet


Kalau bicara santet,banyak sekali pengalaman yang beliau dapatkan,Hampir semua aliran ilmu santet di kenalnya,dan sudah tidak terhitung banyaknya dukun santet yang pernah dihadapi,sejak kecil Gus Maksum sudah terbiasa menghadapi berbagai macam-macam aliran ilmu santet.Beliau juga tidak segan-segan untuk menantang para dukun santet secara terang-terangan.Hal itu dilakukan karena santet menurut Gus Maksum termasuk kemungkaran yang harus dilawan.

  • Kekebalan Gus Maksum terhadap santet juga sudah pembawaan sejak lahir,karena beliau juga masih keturunan Kiai Hasan Besari (ponorogo).Menurut Gus Maksum sebagai muslim tidak perlu khawatir terhadap santet,karena santet hanya bisa dilakukan oleh orang-orang kufur atau murtad,yang penting seorang muslim haruslah selalu ingat kepada Allah dan bertawakal kepadaNya.

Diantara pengalaman Gus Maksum mengenai santet diantaranya dialaminya ketika menginap di desa Wilayu,Genteng,BanyuWangi,sekitar jam setengah dua malam,saat beliau hendak istirahat,tiba-tiba dari arah kegelapan muncul bola api sebesar telur terbang menuju kearah pahanya.Dengan santai Gus Maksum membiarkan bola api itu mendekatinya.Ketika bola api itu sampai ke paha,Beliau Cuma Tanya”Banyol tha (mau bercanda ya?) seketika itu juga bola api itu melesat pergi ditengah kegelapan malam.

Satu lagi kejadian yang pernah dialaminya,ketika bermalam didesa Kraton,Ranggeh saat Gus Maksum beristirahat,beliau di datangi kera jadi-jadian yang berusaha mencekiknya,tapi usaha itu dibiarkannya saja,setelah beberapa lama baru ditanya Gus Maksum “mau main-main ya? Langsung saja kera itu lari menghindar dari Gus Maksum.


Surat sakti


Gus Maksum pernah kedatangan tamu dari semarang yang mengeluhkan kelakuan putranya yang suka mabuk-mabukan dan sering pergi kelokalisasi,bahkan putranya sering mengancam akan membunuh orang tuanya.Karena sudah tak tahan melihat kelakuan putranya itu,ia pergi kerumah Gus Maksum di Kediri,dengan harapan mendapat obat untuk mengobati prilaku anaknya.Tapi yang diharapkan tidak dipenuhi Gus Maksum,Beliau hanya membuatkan sepucuk surat untuk dibawa pulang agar dibacakan kepada anaknya.

Walaupun orang tua itu bingung karena obat yang di harapkannya tidak diberi,ia tetap melakukan apa yang diperintahkan Gus Maksum dengan menyampaikan surat itu kepada anaknya,Dan begitulah setelah surat itu dibacakan kepada anaknya,dalam waktu singkat kelakuan anaknya yang sebelumnya tidak bisa dikendalikan perlahan berubah.Singkatnya kelakuan anak itu tidak lagi nakal seperti dulu.

Demikian sebagian Fenomena Gus Maksum